Rabu, 31 Ogos 2016

Please Forgive Me @ Errors Involving Arabic Language

Simply said, I should have used the word “aslim”, instead of “aslam”, although the Arabic spelling for both words are the same, which is “alif-sin-lam-mim”. Truly, “aslim” rhymes with “Muslim”, while “aslam” rhymes with “Islam”. Anyway, in my effort to define Muslim, I should have stated that Muslim means one who “aslim”, instead of one who “aslam”. So, please forgive me. One verse in the Quran regarding “aslim” and “aslamtu” is verse 131 of surah Baqarah (Quran 2:131). Moving on, please understand that “lam-alif-mim” in Arabic is equal to “laam”, not “lam”, therefore, “sin-lam-alif-mim” is for “salaam”, not “salam”. And do understand that “lam-alif” is Arabic for “laa”, not “la”, therefore, “sod-lam-alif-ta” is for “solaat”, not “solat”.
    Of course, I am not the only one who has simplified “salaam” to “salam”, and “solaat” to “solat”. Right? And truly, the “Jawi” is not exactly the same as Arabic. Nevertheless, precision is important. Omitting one letter could change the meaning. And misspelling is not a good thing. Truthfully, “aslim” in Arabic means surrender or submit in English. And Muslim means one who “aslim”. To whom do Muslims surrender or submit? To Allah, of course. Note: I prefer using the word “surrender” than “submit” because “surrender” is clear or more precise, and it is not likely, or it is less likely, to be misunderstood, compared to “submit”. And if you know Arabic well, then what is the Arabic word which spelling is merely “sin-lam-mim”? Is it “salim”? Is it “salam”? In reality, do both “salim” and “salam” exist in Arabic vocabulary? Anyway, is there any difference between “salim” and “salam”? How about “aslim” and “aslam”? And how about “solaat” and “solat”? Please let me know. And please, correct me if I am wrong. Truthfully, Muslim precisely means one who surrenders to Allah, therefore, surrendering to Allah is necessary for anyone to become a Muslim, in the sight of Allah, Him, the sole creator or inventor of Islam, Him, the sole author of the Quran.
    Yes, the Quran, not the Hadith, is the book to understand and live by, while Allah, not Muhammad, nor Jesus Christ, is whom to accept as lord and as king. And pride, as lust, is not what to follow. Seriously, what do you get if you refuse to humble and surrender to Allah, Him, the most powerful, the most righteous, the uncontrolled? Real power? True wisdom? A great future? And regarding “mubahalah”, who would teach that it is an ancient way, or that it is not a righteous thing to do? Is it Rasulullahs? Or is it the Munafiqs? Get it? Anyway, beware of reasons. And to understand why those who say the Syahadah should or could be regarded as Munafiqs, consider verse 1 of surah Munafiqun. Who is the true witness that Muhammad is a Rasulullah? Truly, it is Allah, not ulama of Sunnis, nor imams of Shias. And if you did not witness, then you should not bear witness.

Rabu, 20 Julai 2016

The True Or Genuine Quran, And The Correct Arabic Spelling For Islam And Salam

Why believe that the book called al Quran today is not as same as the true Quran? Or why should we assume that the book called al Quran nowadays might differ from the genuine Quran in content? Fact: There is a difference in the Arabic spelling for “solat”, aka prayer. For example, verse 43 of surah Baqarah (Quran, 2:43). At islam.lt, the Arabic spelling for “solat” is “sod-lam-wau-ta”, but at islamicity.org, the Arabic spelling for “solat” is “sod-lam-alif-ta”. So, which Arabic spelling for “solat” is correct?
    Or, are both spellings for “solat” not as same as the spelling for “solat” in the genuine Quran? But before that, “lam-alif” is Arabic for “laa”, not “la”. So, “sod-lam-alif-ta” should be the Arabic spelling for solaat, not solat. For solat, the Arabic spelling should be “sod-lam-ta”. And “sod-lam-wau-ta” should be for solawat. Dare to ponder. And please note: The true Quran is the book which was entirely authored by Allah, whom has chosen Arabic, plain Arabic as its language. And the “Quran” that was used by Muhammad, Rasulullah, should be regarded as a true copy of the Quran, or be regarded to be the same in content as the true or original or genuine Quran. Moving on, how about the correct Arabic spelling for the word “Islam” and for “salam”?
    Again, “lam-alif” is Arabic for “laa”, not “la”. Therefore, “alif-sin-lam-alif-mim” should be the Arabic spelling for Islaam, not Islam. For Islam, the Arabic spelling should be “alif-sin-lam-mim”, which is as same as the spelling for aslam. And precisely, “sin-lam-alif-mim” should be the Arabic spelling for salaam, not salam. For salam, the correct spelling in Arabic is or should be “sin-lam-mim”. Allah knows. Prove me wrong or irrational, if you can. And if you are an expert in Arabic language, what do you have to say to what I have stated? Honestly, I am not an expert in Arabic, but I am not mindless. And the fact is, an expert does not mean one who is always correct, let alone always divinely guided. Nevertheless, we should be aware of the correct Arabic spelling for Islam and solaat and several other words. Wrong spelling can really mislead. And believing, as guessing, is not knowing.
    Like it or not, what is really the spelling for Islam and solaat and Muslim and “solawat” in the true or original or genuine Quran? I need to know, or I should know. How about you? But, where is the true or original or genuine Quran? Or, who now keeps the “Quran” that was referred to by Muhammad, Rasulullah, or by the four caliphs after him? Please be truthful. And please, don’t hastily call me misguided. And note: If you dare to defend any of your teachings or beliefs by doing “mubahalah”, then please let me know. Surely, Allahu a’lam. And verily, entering Islam must be by worshiping Allah, only Allah, and by surrendering to Allah. Do you know why? If you don’t know why, then ask me why, or find out why. Note: Islam was invented solely by Allah, Him, the sole author of the Quran. So? Anyway, examine your beliefs. And why not examine and promote what I have written?
    Be aware, that if you don’t know why you believe what you believe, then you are either crazy or stupid or irrational, and true, you should probably be called misguided, and a hypocrite or a fake. Yes, we should believe what is true, not what is wrong, regardless of personal pride and liking. Yes, we should be sane and smart and rational, not crazy, nor stupid, nor irrational. And of course, we should stand for truth and justice and righteousness. Like it or not, our life is temporary, but Allah remains our creator, our life-giver, our lord, our king, our god, to whom we are returned. So? We should be humble, and loyal, to Allah. Salaam.

Khamis, 30 Jun 2016

Awas, Dan Ketahui Serta Berpeganglah Kepada Hakikat Serta Ajaran Allah

Kemampuan berfikir dan tahap kepekaan kita tidaklah sama saja. Ilmu ada macam-macam, maka ulama ada macam-macam. Dan awas, betapa banyak adalah kepalsuan. Sila siasat atau tanya atau fikir, kalau tidak tahu. Menyangka, juga menghafal, bukanlah bermakna mengetahui, usahkan memahami. Dan bertanya bukan bermakna berguru. Meniru dan mengikut tidaklah sama saja. Berniat, juga merancang, bukan bermakna berjanji. Dan jadilah orang akal dan kewajaran, bukan orang marwah dan kebendaan. Sebenarnya, apakah yang engkau betul faham, atau tahu, betul tahu, setelah berguru atau membaca atau mendengar?
    Ketahui dan terima-pakailah hakikat, iaitu kebenaran, iaitu sesuatu yang benar. Kebenaran tidak patut ditolak, walau bagaimanapun ianya disampaikan. Dan ambil-tahu serta terima-pakailah ajaran Allah, terutama hukum dan penilaianNya. Kalau ajaran Allah adalah yang dicanggah atau diketepikan, atau kalau ajaran Allah adalah yang tidak diikutkan atau tidak dipercaya, maka apakah hasilnya, atau apakah akibatnya, atau apakah susulan itu? Adakah mendapat pahala atau ganjaran yang besar, bukan membawa ke Neraka, mahupun sia-sia? Sebenarnya, tidakkah engkau akan menjadi sesat atau lebih sesat, atau menjadi rosak atau lebih teruk, atau mendapat dosa atau kerugian, kalau ajaran Allah adalah yang engkau canggah atau ketepikan, atau kalau ajaran Allah adalah yang engkau tidak ikutkan atau tidak percaya? Dan patutkah berharap mendapat tempat di Syurga atau balasan yang baik dari Allah, sedangkan selain Allah adalah yang disembah, sebenarnya disembah, atau sedangkan kezaliman atau kebodohan atau kepalsuan adalah yang diamalkan atau yang dipercaya? Allah bukan bodoh. Dan Allah tidak memerlukan.
    Sebenarnya, ajaran atau hukum siapakah yang si ustaz atau ulama terima-pakai atau amalkan, atau percaya atau bahkan perjuangkan? Siapakah yang sebenarnya disembah, kalau mempertuankan, apatah lagi memperajakan, adalah menyembah? Dan mengenai syafaat atau syahadah atau hadis atau sunnah atau ulama atau najis atau jihad atau solat atau baiah atau infak atau zakat atau sedekah, ajaran atau hukum siapakah yang sebenarnya engkau terima-pakai atau amalkan atau percaya? Jangan menyangka ikut marwah ataupun ikut selesa. Lihatlah di dalam al Quran. Dan fahamilah, tidak semua mementingkan ajaran Allah, mahupun kebenaran, berbanding marwah dan kebendaan. Hmm, yang ramai adalah yang mengaku percaya kepada al Quran, tetapi tidaklah sebenarnya berpegang kepada ajaran yang terkandung di dalam al Quran. Betul pada sebutan, tetapi tidak betul pada kefahaman. Atau apa yang diucap bukanlah apa yang sebenarnya dipercaya. Dan awas, betapa ramai ustaz dan imam dan ulama yang patut dianggap barua syaitan, atau Munafik, atau yang menyesatkan, atau yang memesongkan dari Islam dan kewajaran.
    Hmm, terjemahan atau pengertian atau kefahaman yang salah atau kurang betul. Bohong atau pengakuan palsu, atau sangkaan yang tidak munasabah. Dan ajaran sesat Syahadah, iaitu ajaran yang mengatakan bahawa masuk Islam adalah dengan mengucap kalimah Syahadah. Hmm, yang ramai bukanlah Muslim, tetapi yang mengaku Muslim. Betapa ramai adalah yang melakukan solat, tetapi tidaklah beribadat kepada Allah, iaitu tidaklah menyembah Allah. Dan yang ramai bukanlah yang beriman kepada al Quran, tetapi yang sebenarnya bercanggah dengan al Quran. Fahamilah hakikat bahawa Muslim ialah yang aslam. Dan aslam ialah menyerah, iaitu menyerah diri. Erti Muslim yang tepat atau lebih tepat adalah yang menyerah diri kepada Allah. Dan sedarilah hakikat bahawa semestinya Muslim adalah menyembah Allah, hanya Allah, serta menyerah diri kepada Allah.
    Apakah bukti atau alasan yang munasabah bahawa semestinya Muslim adalah menyembah Allah, hanya Allah, serta menyerah diri kepada Allah, atau bahawa masuk Islam, iaitu menjadi Muslim, mestilah dengan menyembah Allah, hanya Allah, serta dengan menyerah diri kepada Allah? Jawapan: 3 ayat pertama di surah Kafirun, dan erti Muslim. Sila fahami 3 ayat pertama di surah Kafirun untuk sedar bahawa yang menyembah selain Allah adalah Kafir, dan bahawa Muslim adalah yang menyembah Allah, hanya Allah, serta bahawa yang membezakan Muslim dari Kafir adalah sembahan, iaitu bukan solat. Muslim adalah yang menyembah Allah, hanya Allah, oleh itu, menjadi Muslim mestilah dengan menyembah Allah, hanya Allah. Sila faham, bahawa masuk Islam adalah sama erti atau maknanya dengan menjadi Muslim. Dan erti Muslim adalah yang menyerah diri kepada Allah, oleh itu, menjadi Muslim mestilah dengan menyerah diri kepada Allah. Awas, menyerah diri tidaklah sama dengan berserah diri, sebagaimana aslam bukanlah tawakal. Dan ibadat, bukan solat, adalah yang patut disamakan dengan sembahyang.
    Sebenarnya, Islam adalah suatu kata nama, sedangkan aslam adalah suatu kata kerja atau kata perbuatan. Dan fahamilah, bahawa erti Islam adalah penyerahan, iaitu penyerahan diri kepada Allah. Apa itu masuk Islam, atau apa itu berada di dalam Islam, iaitu berada di dalam penyerahan diri kepada Allah? Tidakkah itu adalah atau bermakna menyerah diri kepada Allah? Fikirkanlah. Bayangkanlah. Dan patutkah mereka yang salah atau jahil mengenai bagaimana untuk menjadi Muslim, atau mengenai erti sembah atau tuhan atau Muslim atau Islam atau kemerdekaan atau perhambaan atau najis, dianggap pejuang atau ulama Islam, atau diambil atau diterima sebagai guru dalam mempelajari Islam ataupun al Quran? Jujurlah. Munasabahlah. Dan betapa penting adalah akal serta kejujuran, atau juga keadilan atau kebaikan hati, untuk mendapat kefahaman sebenar dan kesedaran, apatah lagi untuk mendapat penghormatan Allah, Dia yang tidak memerlukan, Dia yang tetap terlalu berkuasa walaupun tidak disembah.
    Janganlah tersalah guru ataupun kawan. Janganlah al Quran sekadar dibaca. Dan betapa tidak memikirkan atau tidak faham boleh amat merugikan, atau merosakkan, atau menyesatkan, atau membahayakan. Ingatlah, ilmu dan kewajaran membawa ke Syurga. Sedarlah, serta sampaikanlah, bahawa mengucap kalimah Syahadah dan mengamalkan apa yang diuar-uarkan sebagai Rukun Islam, begitu juga yakin Muslim dan yakin betul, dan begitu juga menyayangi Nabi Muhammad serta menyayangi Allah dan semua rasulNya, tidaklah menjadikan sesiapapun Muslim, usahkan Mukmin, usahkan Muttaqin. Dan Syurga tidaklah terletak di kaki Rasulullah, maka takkanlah Syurga terletak di kaki makhluk Allah yang lain. Fahamilah, betapa Hadis tidak sejajar dengan al Quran, atau dengan kewajaran. Dan sebenarnya, adakah Allah menyuruh supaya mengikut Sunnah dan mempercayai ulama?

Khamis, 26 Mei 2016

Hukum Tidak Berguru, Dan Mengenai Ustaz Dan Muslim Sebenar Dan Raja Manusia

Apakah hukum tidak berguru? Haramkah, atau berdosakah kalau tidak berguru? Jawapanku: Tidak haram dan tidaklah berdosa kalau tidak berguru. Dan akur atau fahamilah, bahawa berguru bukanlah satu-satunya cara untuk mendapat ilmu atau pengetahuan, sebagaimana makan nasi bukanlah satu-satunya cara untuk mendapat nutrisi ataupun tenaga. Hmm, kalau aku salah atau tersilap, maka sila buktikan. Boleh? Janganlah menyangka ikut sedap hati. Dan marilah kita menjadi orang akal dan kewajaran.
    Suka atau tidak, apakah akibatnya kalau takut, atau kalau tidak mahu untuk mentadabur ataupun memikirkan? Dan antara berguru dan mengkaji-selidik atau memikirkan, yang manakah lebih baik atau lebih penting? Suka atau tidak, siapakah yang wajar atau sepatutnya diambil sebagai guru? Dan siapakah yang tidak wajar diterima sebagai guru? Sebenarnya, apakah akibat tersalah guru? Dan sebenarnya, apakah ajaran Allah mengenai berguru atau berfikir atau tadabur atau hafal atau hadis atau ulama? Suka atau tidak, apakah yang perlu engkau buat, kalau ingin faham, betul faham, atau kalau ingin tahu, betul tahu? Dan bagaimanakah untuk mengelak dari menjadi sebodoh binatang ternakan, usahkan lebih teruk? Sebenarnya, elokkah kalau tidak faham, tetapi hafal ataupun ingat? Sebenarnya, tidakkah al Quran patut ditadabur, bukan patut dihafaz? Dan mengenai imam agama ataupun imam kehidupan, tidakkah al Quran, bukan Hadis, juga bukan seseorang manusia, adalah yang patut diambil sebagai imam?
    Sila bandingkan al Quran dengan Hadis, termasuk yang dipercayai sahih oleh ulama Sunnah wal Jamaah. Faham atau sedarlah, Hadis tidaklah patut diterima sebagai kata-kata Nabi Muhammad, usahkan sebagai sumber Islam. Dan awas, janganlah terpedaya oleh ajaran sesat atau temberang ataupun salah-faham mengenai berguru dan ulama dan sunnah dan letaknya Syurga. Sila faham, bahawa ulama, juga Rasulullah, bukanlah pencipta Islam. Dan yang salah mengenai bagaimana untuk masuk Islam, begitu juga yang salah mengenai erti Islam dan Muslim dan sembah dan tuhan, sangatlah tidak patut dianggap ulama Islam. Akur atau sedar atau fahamilah, bahawa sebenar ajaran Muhammad, Rasulullah, adalah sepertimana yang dinyatakan di dalam al Quran. Dan fahamilah, bahawa hakikat bukan ditentukan oleh ulama, mahupun Rasulullah, usahkan ustaz. Hakikat, termasuklah mengenai erti Islam dan Muslim dan sembah dan tuhan, juga mengenai cara untuk masuk Islam dan menjadi Muslim, bukanlah bergantung kepada ulama, mahupun Rasulullah, usahkan ustaz. Dan janganlah mengada-ngada: Hakikat, iaitu kebenaran, iaitu sesuatu yang benar, tidaklah patut ditolak, walau siapapun yang mengajar, dan walau bagaimanapun ianya disampaikan. Wajarlah.
    Kalau engkau tidak memikirkan apa yang engkau telah baca ataupun dengar, maka engkau serupa buta ataupun pekak. Dan yang patut atau lebih patut dianggap bergurukan syaitan ataupun sesat bukanlah yang tidak berguru, usahkan yang berfikir dengan rasional serta jujur, tetapi yang tersalah guru ataupun kitab, begitu juga yang salah-faham serta tidak jujur. Kalau engkau tidak memikirkan, atau tidak menggunakan otak, maka tidaklah mungkin engkau betul faham ataupun betul tahu. Kalau engkau tidak memikirkan, atau tidak menggunakan otak, maka mudahlah engkau untuk menjadi sebodoh binatang ternakan atau bahkan lebih teruk. Dan sesungguhnya, Allah mengajar supaya berfikir serta mentadabur. Sila ambil-tahu ejaan Islam dan aslam serta salam (di dalam bahasa Arab), lalu sedarlah bahawa Islam patut disamakan dengan aslam, bukan dengan salam. Dan benar, abdi adalah perkataan yang berasal dari bahasa Arab yang ertinya ialah hamba. Sedarlah, abdi dan hamba adalah sama ertinya, oleh itu, mengabdikan diri samalah dengan menghambakan diri. Sedarlah, beribadat kepada Allah samalah dengan menyembah Allah. Dan benar, kalau ada hamba, maka adalah tuan, oleh itu, kalau kita adalah hamba Allah, maka Allah adalah tuan kita. Hayatilah.
    Awas, tidak mempertuankan Allah, iaitu tidak menerima Allah sebagai tuan, bermakna tidak menghambakan diri kepada Allah. Dan tidak menghambakan diri kepada Allah bermakna tidak menyembah Allah. Sila fahami 3 ayat pertama di surah Kafirun, lalu sedarlah juga bahawa yang membezakan Muslim sebenar dari Kafir yang mengaku Muslim adalah sembahan, iaitu bukan solat. Akur atau sedarlah, bahawa mereka yang menyembah selain Allah adalah Kafir, walaupun melakukan solat serta bergelar ulama muktabar. Dan awas, yang membezakan beribadat dari menyembah, atau abdi dari hamba, bukanlah yang wajar diterima sebagai guru dalam mempelajari Islam ataupun al Quran: Begitu juga atau lebih-lebih lagi yang menyamakan “rob” dengan tuhan, iaitu “ilah”, atau menyamakan solat dengan sembahyang; dan begitu juga atau lebih-lebih lagi yang mengajar bahawa masuk Islam, iaitu menjadi Muslim, adalah dengan mengucap kalimah Syahadah, atau dengan mengamalkan apa yang diuar-uarkan sebagai Rukun Islam, ataupun dengan mendapat wahyu. Jangan tersalah guru. Dan lebih penting, jangan takut untuk memikirkan.
    Akur atau fahamilah, bahawa erti Muslim bukanlah yang mengucap kalimah Syahadah, juga bukanlah yang mengamalkan Rukun Islam, serta bukanlah yang mendapat wahyu. Akurlah atau sila fahami, bahawa erti Muslim, iaitu orang Islam, adalah yang aslam atau menyerah diri kepada Allah, oleh itu, menjadi Muslim mestilah dengan aslam atau menyerah diri kepada Allah. Dan fahamilah 3 ayat pertama di surah Kafirun, lalu sedarlah bahawa menjadi Muslim mestilah dengan menyembah Allah, hanya Allah. Maka? Akur atau sedarlah, bahawa masuk Islam, iaitu menjadi Muslim, mestilah dengan menyerah diri kepada Allah, serta dengan menyembah Allah, hanya Allah. Sampaikan atau ingatlah, bahawa semestinya Muslim, sebenar Muslim adalah menyembah Allah, hanya Allah, serta menyerah diri kepada Allah. Dan akur atau fahamilah, bahawa Allah adalah rob-binnas, malikin-nas, ila-hinnas, iaitu tuan manusia, raja manusia, tuhan manusia. Allah berhak, sepatutnya berhak sebagai tuan ke atas ciptaanNya. Sedarlah, “rob” bukan tuhan, tetapi tuan, iaitu “lord”. Dan benar, yang tidak berhak sebagai tuan kita tidaklah berhak sebagai raja kita.
    Siapakah tuanmu, rajamu, tuhanmu? Apakah agaknya jawapan Rasulullah kepada soalan itu? Adakah jawapan engkau atau si ustaz ataupun ulama sama saja dengan jawapan Rasulullah? Jujurlah. Dan ingat mati. Janganlah memilih-milih kebenaran, juga janganlah memilih-milih kewajaran ataupun keadilan. Yang benar, apatah lagi yang wajar ataupun adil, tidaklah patut ditolak, walaupun si pengajar bukanlah Rasulullah ataupun ulama ataupun ustaz. Dan akur atau fahamilah, bahawa pencipta Islam adalah Allah, hanya Allah, oleh itu, sebenar ajaran dan hukum Islam, termasuk mengenai Kafir dan bagaimana untuk masuk Islam, adalah bergantung hanya kepada Allah, Dia, penguasa mutlak Syurga dan Neraka, Dia, guru teralim, Dia yang tidak memberi hidayah kepada pelampau dan pendusta. Ketahuilah ajaran Allah. Pertuan-rajakanlah Allah. Dan taat, serta setialah kepada Allah.

Selasa, 5 April 2016

Tak Mungkin Bersama, Dan Ciri Perempuan Idaman


Berkawan sanggup, berkahwin belum: Begitulah pendirianku terhadapnya. Dan menurut kata seseorang, dia baru berkahwin lagi. Hmmm. Mahukah dia menjadi yang ke 2 atau ke 3 ataupun ke 4 untukku? Dan mahukah dia melamarku? Hmm, tidak mungkin. Maka? Apapun, sudah bertahun aku terbelenggu ataupun terbeban oleh perasaan yang bernama cinta. Betapa aku sekadar boleh menyangka. Dan sejak Khamis atau Jumaat lalu, sudah entah berapa kali aku mengucapkan “Goodbye, Rubi” ataupun “It’s over” kepada diriku. Semoga hilang selamanya atau tidakkan ada lagi sakit atau beban ataupun gelisah gara-gara cinta itu. Semoga akan datang sakinah dan kelapangan untuk hati dan jiwaku. Dan semoga aku akan didampingi kebahagiaan. Allahu akbar.
    Hmm, adakah untukku seorang perawan yang percaya bahawa Allah adalah penciptanya, tuannya, rajanya, tuhannya? Sebenarnya, ramaikah yang akur bahawa Allah adalah pencipta mereka, tuan mereka, raja mereka, tuhan mereka? Dan sekarang ini, ramaikah ibubapa yang percaya bahawa masuk Islam, iaitu menjadi Muslim, mestilah dengan menyembah Allah, hanya Allah, serta dengan menyerah diri kepada Allah? Hmm, gara-gara Munafik dan ajaran sesat Syahadah. Betapa ramai yang mempercayai terjemahan atau pengertian ataupun ajaran yang salah mengenai “rob” dan solat dan sembah dan tuhan dan Muslim dan Islam dan hadis dan sunnah dan kemerdekaan dan shirik. Betapa ramai yang bohong ataupun membuat pengakuan palsu dalam solat. Dan betapa mereka yang bergelar ustaz dan imam dan ulama adalah mereka yang sesat serta memesong-sesatkan. Nauzubillah.

Isnin, 21 Mac 2016

Sesat-Salah Melayu Dan Arab @ Bukan Salah Yahudi Dan Kristian

Menyalahkan Yahudi dan Kristian, juga Shiah: Itu dasar Munafik? Bagaimana dengan Sunni ataupun ulama Sunnah wal Jamaah? Apapun, siapakah yang menterjemahkan “rob” kepada tuhan, dan solat kepada sembahyang? Siapakah yang mengatakan bahawa abdi dan hamba tidaklah sama? Dan siapakah yang mengajar bahawa erti Islam adalah salam atau aman ataupun “peace”?
    Bagaimana pula dengan pengertian ataupun ajaran mengenai hadis dan sunnah dan najis dan ulama yang sebenarnya bercanggahan ataupun tidak sejajar dengan ajaran yang terkandung di dalam al Quran? Dan kalau tidak betul mengenai bagaimana untuk masuk Islam, maka apakah padah ataupun akibatnya? Antara Yahudi dan Kristian dan Munafik, siapakah yang menyesatkan ataupun lebih menyesatkan? Dan siapakah yang mengajar bahawa perempuan patut diumpamakan perigi, tidak timba?
    Hmm, di manakah Yahudi ataupun Kristian patut dipersalahkan? Dan patutkah Yahudi atau Kristian dipersalahkan kalau kebanyakan Melayu dan Arab yang mengaku beragamakan Islam sebenarnya adalah Munafik ataupun sesat tak sedar diri? Apapun, apakah hakikatnya, maka siapakah yang sebenarnya mempercayai terjemahan atau pengertian ataupun ajaran yang salah mengenai hal itu? Hmm, Melayu. Sesat atau tidak jujur ataupun tidak betul mengenai perigi dan timba. Dan melakukan solat, tetapi bohong ataupun membuat pengakuan palsu dalam solat. Membuta percaya, atau bagaikan tidak berakal. Sembrono yakin, seolah-olah keyakinan boleh mengubah nasib ataupun hakikat. Dan sesat ataupun tidak betul mengenai bagaimana untuk masuk Islam, atau bagaimana untuk menjadi Muslim. Tersalah kitab. Tersalah guru. Dan mudah sombong atau angkuh ataupun eksen.
    Hmm, Melayu. Mengaku menyembah hanya Allah, padahal selain Allah adalah yang disembah, atau Allah tidaklah disembah. Salah faham ataupun tidak betul mengenai sembah. Dan sesat atau bohong ataupun tidak betul mengenai erti tuhan dan Muslim dan Islam dan kemerdekaan dan perhambaan dan shirik dan tauhid dan najis. Hmm, betapa ustaz dan imam adalah barua syaitan ataupun yang menyesatkan. Dan betapa ajaran Allah dicanggah, atau betapa al Quran sebenarnya tidak dipercayai.
    Siasat atau ketahuilah ajaran Allah mengenai hadis atau sunnah atau najis atau syahadah atau apapun hal yang terbabit. Awas, terjemahan atau pengertian yang salah janganlah tidak disedari, usahkan diterima-pakai. Dan sila fahami apa yang aku sudah sampaikan, terutamanya di www.filopu.blogspot.com. Hmm, adakah ulama atau imam ataupun pakar yang berani untuk mubahalah menentang aku, iaitu seorang ahli fikir yang mengajar bahawa masuk Islam bukanlah dengan Syahadah, dan bahawa “rob” (rabb) bukanlah tuhan, tetapi tuan, serta bahawa solat bukanlah sembahyang? Berakal dan wajarlah, bukan atau berbanding bersyahwat dan bermarwah. Dan hakikat, iaitu fakta atau kebenaran, apatah lagi keredhoan Allah dan keuntungan abadi, tidaklah bergantung kepada kehendak majoriti. Allah adalah satu-satunya pencipta Islam, susulan itu, hukum dan ajaran Islam yang sebenar adalah bergantung hanya kepada Allah, tidak bergantung kepada ulama mahupun Rasulullah. Dan yang tidak betul mengenai erti sembah dan tuhan dan Muslim dan Islam amatlah tidak patut dianggap Muslim sebenar, usahkan patut dianggap ulama Islam.
    Fahamilah, bahawa syaitan cukup mampu untuk menghias-indahkan kejahatan dan kebodohan. Menyangka, begitu juga menghafal, bukanlah bermakna mengetahui, usahkan memahami. Dan sangatlah penting adalah akal serta kejujuran, atau juga keadilan serta kebaikan hati, untuk mendapat kefahaman sebenar dan kesedaran, apatah lagi untuk mendapat hidayah Allah dan penghormatanNya, apatah lagi untuk mendapat kasih Allah dan suatu tempat di SyurgaNya. Awas, pengarang Hadis yang dikatakan sahih itu bukanlah Nabi Muhammad. Dan sedarlah, Hadis tidaklah patut disamakan dengan kata-kata Nabi Muhammad. Al Quran bukanlah Hadis. Fahamilah, bahawa Mushrik adalah najis, menurut ayat 28 di surah Taubah. Dan fahamilah, ulama Hadis bukanlah ulama Islam, sebagaimana Munafik bukanlah Muslim, ataupun sebagaimana pengarang Hadis bukanlah pencipta Islam.
    Muslim adalah yang menyembah Allah, hanya Allah. Yang menyembah selain Allah adalah Kafir, walaupun melakukan solat serta bergelar ulama muktabar. Dan sedarlah, bahawa yang membezakan Muslim dari Kafir adalah sembahan, iaitu bukan solat. Apakah bukti ataupun penjelasannya? Sila fahami 3 ayat pertama di surah Kafirun. Dan mengenai Syahadah Munafik, sila tadabur ayat pertama di surah Munafiqun. Sebenar-benarnya, di manakah engkau semasa Muhammad dilantik menjadi Rasulullah? Sebenar-benarnya, bagaimanakah Rasulullah, termasuk Ibrahim, masuk Islam? Dan apakah erti Muslim, iaitu orang Islam?
    Berbalik kepada Syahadah, siapakah saksi bahawa Muhammad adalah Rasulullah? Adakah mereka yang mengucap dua kalimah Syahadah, atau adakah Allah, adalah saksi bahawa Muhammad adalah Rasulullah? Jujurlah. Sesungguhnya, kalau engkau tidak menyaksikan, maka engkau hanya boleh menjadi saksi palsu. Maka? Patut-patutlah, janganlah menyamakan menyaksikan dengan mempercayai, mahupun dengan memperakui. Dan sedarlah, ulama, juga pakar, bukan bermakna yang benar serta jujur, usahkan bermakna yang adil serta bertaqwa kepada Allah, di samping bukan bermakna yang mendapat hidayah Allah. Sila fahami ajaran yang terkandung di dalam al Quran mengenai ulama, lalu janganlah menganggap ulama sebagai pewaris Nabi. Sila fahami ajaran yang terkandung di dalam al Quran mengenai hadis dan sunnah dan najis, lalu janganlah mempercayai pengertian ataupun ajaran yang salah mengenai hadis dan sunnah dan najis. Dan awas, jangan tersilap mengenai cara untuk masuk Islam atau menjadi Muslim. Fahami 3 ayat pertama di surah Kafirun, dan sila fahami erti Muslim, iaitu yang menyerah diri kepada Allah, lalu sedarlah bahawa masuk Islam, iaitu menjadi Muslim, mestilah dengan menyembah Allah, hanya Allah, serta dengan menyerah diri kepada Allah. Dan ayuh, kita perangi ajaran sesat Syahadah serta shirik, khususnya, dan kezaliman serta ketidak-benaran, amnya.
    Sesungguhnya, yang menyembah selain Allah bukanlah Muslim, tetapi Kafir, juga Mushrik, walau sebanyak manapun duit dan ilmu dan amal ibadatnya, dan walau seramai manapun penyokong dan pengikut serta pahlawannya. Menyembah Allah, hanya Allah, adalah mentauhidkan Allah, iaitu bersetia kepada Allah, sedangkan menyembah selain Allah adalah menshirikkan Allah, iaitu curang terhadap Allah, tidak setia kepada Allah. Dan ingat ataupun sedarlah, bahawa yang mempertuankan selain Allah, apatah lagi yang memperajakan selain Allah, adalah yang menyembah selain Allah. Siapakah yang bangga atau suka, kalau selain Allah adalah yang engkau terima sebagai rajamu ataupun sebagai tuanmu? Jawapannya: Bukan Allah dan rasulNya, tetapi Iblis dan syaitan. Dan sedarlah, bahawa yang sesuai untuk mereka yang mementingkan marwah berbanding kebenaran, ataupun berbanding kejujuran, bukanlah kefahaman sebenar dan hidayah Allah, tetapi kesesatan atau temberang ataupun dolak-dalih syaitan.
    Allah berhak sebagai tuan ke atas ciptaanNya. Dan kita adalah ciptaan Allah. Yang tidak berhak sebagai tuan ke atas kita tidaklah berhak sebagai raja kita. Dan perhambaan, juga shirik terhadap Allah, bukanlah di mana Allah adalah raja ataupun tuan, tetapi di mana selain Allah adalah raja ataupun tuan. Sembahlah Allah, hanya Allah, iaitu terimalah Allah, hanya Allah, sebagai tuan, dan terimalah Allah, hanya Allah, sebagai raja. Wajarlah. Dan merdeka: Hanya Allah berhak sebagai tuan kita, raja kita.

Ahad, 21 Februari 2016

Menghargai Dan Menangani Cinta, Dan Mengenai Kesesuaian

Cinta bukan syahwat. Dan syahwat bukanlah cinta, sebagaimana keinginan bukanlah perasaan. Fahamilah, bahawa kesan cinta terhadap perempuan tidaklah sama saja dengan dengan kesan cinta terhadap lelaki. Dan cinta pun ada jenis ataupun kategorinya. Sesungguhnya, tahap kejujuran manusia tidaklah sama saja, begitu juga dengan kepekaan serta IQ. Tidaklah semua manusia layak untuk mendapat cinta sejati, begitu juga dengan hidayah Allah mahupun kefahaman sebenar. Dan fahami sepenuhnya, bahawa jujur, tidak bohong, begitu juga adil, tidak zalim, dan begitu juga menyembah, iaitu menghambakan diri, adalah sikap.
    Hmm, sikap. Setelah si perempuan jual mahal dan tidak berterus-terang serta tidak jujur, ataupun setelah si perempuan mementingkan kebendaan ataupun marwah ataupun adat berbanding kejujuran, maka apakah padah ataupun akibatnya? Tidakkah si perempuan menjadi penyakit atau duri ataupun sampah, ataupun menjadi tidak istimewa kepada si lelaki yang dia sebenarnya cinta? Dan tidakkah pelacur ataupun seperti pelacur adalah perempuan yang sanggup melakukan seks dengan lelaki yang dia tidak cinta? Fahamilah, wahai perempuan. Fahamilah, wahai ibu yang menyayangi. Dan fahamilah, wahai bapa yang ingin melindungi. Janganlah menyangka ikut suka ataupun tidak munasabah, usahkan syok sendiri serta mabuk kemarwahan. Berakallah, bukan atau berbanding bermarwah. Dan timba tak sedar diri, serta tidak jujur dalam cinta: Begitulah sudah ramai perempuan. Hmm.
    Betul, takkanlah perigi mencari timba, tetapi sedarlah juga bahawa perempuan bukanlah yang patut diumpamakan perigi. Sila faham, bahawa perempuan, sebagaimana timba, adalah tempat dimasukkan air, sedangkan lelaki, sebagaimana perigi, adalah tempat yang mengandungi air. Apa? Timba adalah pencedok air, maka lelaki adalah timba? Hmmm, adakah berlaku di mana lelaki mencedok air dari perempuan? Sila jujur. Dan terimalah hakikat, walaupun ia tajam dan berat serta menakutkan. Hakikatnya, lelaki memasukkan air mani ke dalam perempuan. Hakikatnya, perempuan, juga lelaki, tidaklah sama saja, begitu juga dengan cinta dan nilai kebenaran. Dan Allah, si pencipta cinta, ada kehendakNya, dan ada rancanganNya. Antara cinta sejati dan cinta syahwat serta cinta kebendaan, cinta apakah yang sesuai dengan sikap atau hati ataupun jiwamu? Patutkah cinta sejati diletakkan di hati yang jahat ataupun di jiwa yang kotor? Dan sila fikir, cukup sesuaikah perempuan yang mementingkan kebendaan ataupun marwah dengan lelaki yang mementingkan kewajaran ataupun kebenaran? Munasabahlah. Patut-patutlah. Dan Allah bukan bodoh.
    Perbetul-elokkanlah sikap dan kepercayaan serta keinginan. Janganlah tertipu oleh pakaian ataupun penampilan, usahkan terpedaya oleh mereka yang menyamakan “rob” dengan tuhan ataupun solat dengan sembahyang. Dan ingat, kita dikembalikan kepada Allah. Patutkah harta atau marwah ataupun adat dipentingkan berbanding cinta? Ataupun berbanding kebenaran? Ataupun berbanding kejujuran? Tidak. Tidak. Dan tidak. Janganlah dangkal. Pentingkanlah isi ataupun dalaman, berbanding kulit ataupun luaran. Dan ambil-kiralah pandangan Allah, Dia, penilai terarif, Dia, hakim termulia. Menghargai dan menangani cinta bukanlah dengan meletakkan ia di bawah syahwat dan harta, mahupun marwah dan adat, tetapi bukanlah juga dengan meletakkan ia di atas kewajaran mahupun kejujuran. Awas, marwah, sebagaimana syahwat, patutlah dikuasai atau dikawal ataupun diketepikan. Dan ingat, janganlah menjadi pelampau mahupun pendusta pada pandangan Allah, Dia, penguasa mutlak Syurga dan Neraka.